Reshuffle Cuma Nambah Mantan

Spread the love

 

Priiiit!!! Ganti menteri…


Setiap isu reshuffle kabinet mulai dikipas, berarti ada menteri dan teman-teman menteri yang dag-dig-dug. Ada juga yang senang dan berharap.

Menteri-menteri yang disorot mulai berbenah biar ga diganti. Sementara para calon kandidat dan tim suksesnya mulai tebar pesona di depan Presiden Jokowi, dan kasak-kusuk ke tokoh penting di lingkaran Istana.

 Ada yang geer bakal dilamar Jokowi. Yang ga mikirin, alias cuek sama isi hati Jokowi juga ada. Mau dilamar jadi menteri atau enggak, bukan masalah. Lebih nyaman sama status sekarang. Jadi oposisi, rakyat biasa, atau cuma sebatas sahabat. Ga lebih.

Soal reshuffle, pengalaman mengajarkan menteri yang ga punya latar belakang partai, yang paling rentan dihempas. Biarpun kerjanya profesional dan oke.

Why…? One thing you should know! 

Reshuffle lebih sering sebagai langkah politik. Pertimbangan kapasitas dan kinerja itu nomor dua. Ini tradisi bagi-bagi jatah posisi.

Reshuffle juga dilakukan ketika pemerintah sedang lemah, atau di bawah tekanan. Butuh tambahan dukungan politik dari kelompok/partai kuat. Bahkan dari oposisi. 

 Tujuannya biar roda pemerintahan lebih smooth. Ga banyak masalah kalau ada kebijakan baru.  Hubungan yang semulus itu.

Well, apapun motivasinya, yang jelas, reshuffle itu akan melahirkan mantan-mantan baru. Dan, namanya mantan, kadang sakit hatian.  “Huh, yang baru, segitu doang kerjanya. Okean juga gue!” Teman satu gengnya juga jadi ikutan nyinyir. Akhirnya bikin drama-dramaan yang ga jelas. 

Sementara, yang menteri baru, janjinya macam-macam di awal. Setelah jalan, ternyata kinerjanya ga semanis waktu baru jadi. Presiden cuma bisa ngelus dada. Dah terlanjur.

Ini bukan cuma ngomongin dinamika politik di era Presiden Jokowi. Ini terjadi di setiap pemerintahan. Siapa pun presidennya.

Ya memang di tengah ancaman resesi ekonomi dan imbas pandemi covid 19, Jokowi butuh menteri yang lebih gercep dan sensitif. Rakyat sedang haus perhatian.

Yang kerjanya lambat lebih baik minggir! Apalagi yang ga peka. 

Buat warga +62, reshuffle bisa jadi seperti oase di padang pasir. Soalnya, semangat normatif reshuffle, sejatinya memperbaiki kinerja kabinet.

Tapi jangan terlalu banyak berharap sama reshuffle. Nanti ujung-ujungnya kecewa. Karena politik itu tentang kekuasaan bukan kesetiaan. Fit)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *