Article

Sosmed ala ABG Baheula

Oleh: Abu Netro
—————————–
DALAM dunia media sosial, engagement, jadi kata kunci untuk mendongkrak popularitas (follower). Portal berita pun enggak mau ketinggalan. Caranya macam-macam. Kalau di medsos, caranya bisa dengan mengunggah konten dengan teks berupa pertanyaan, tebak-tebakan atau teks lain yang intinya mengajak follower memberikan respons.

Media bagaimana? biasanya pakai trik mengaktifkan kolom komentar di bawah artikel, atau mengajak pembaca menunjukan ekspresinya dengan emoji, sedih, senang, marah dan lain-lain. Yang lebih serius lagi, yaitu membuat pembaca juga ikut menyumbang konten, seperti Kompas dengan Kompasiana, Detik dengan Pasang Mata, dan yang lain.

Nah, itu di era digital. Bagaimana media berita zaman dulu. Ya kita lempar lah 20-30 tahun ke belakang. Yang merasa lahir di atas tahun 1990-an, atau generasi milenial, coba deh bongkar-bongkar gudang. Cari majalah lama punya kakak, bapak, ibu atau kakek-nenek.

Saya kasih tahu. Pada era 1990’an, di media cetak, ada yang namanya rubrik Sahabat Pena, yang memuat surat pembaca. Isinya banyak yang begini contohnya: “Hai nama saya Reza Prakasa …bla..bla..bla.. lengkap dengan kalimat yang bunyinya enggak banget kalau sekarang dicoba, ‘Mau kan kenalan denganku?’ Ditambahnya juga alamat lengkap tempat tinggal.

Enggak pada takut jadi korban penipuan apa ya? Sekarang kalau kita menulis di medsos, jangankan alamat lengkap, nama asli juga dirahasia-rahasiain, atau pake nama akun yang ajaib-ajaib…contohnya RiND4 S3L4Lu D1H4ti….

Nah, Sahabat Pena itu intinya ajang pembaca untuk saling berkenalan. Surat yang dikirim ke media yang dituju itu sebagian besar isinya untuk memperkenalkan diri dan mengajak pembaca lain saling berkirim surat. Motivasinya, sangat mulia. Menjalin persahabatan. Uhuk..uhuk.

Teman saya dapat pacar dari surat-suratan begini… Itu tahun 1995-an lah. Saat itu saja saya juga sudah merasa aneh bahwa ada yang masih surat-suratan lewat rubrik Sahabat Pena di koran. Saya enggak tahu nama korannya. Lupa.

Padahal, usahanya lumayan lho. Beli kertas, beli perangko, kirim lewat kantor pos. Setelah itu, harap-harap cemas menunggu surat kita dimuat koran atau majalah yang kita tuju. Sensasi banget.

Majalah Ria Film juga punya rubrik yang hampir sama dengan Sahabat Pena. Tetapi cara menggaet pembaca untuk ikut partisipasi kayaknya agak ngeselin kalau sekarang dibaca. Nama rubriknya “Calon Bintang & Bintang Film”.

Norak banget. Mungkin sasarannya memang anak-anak alay zaman baheula kali yah, yang cita-cita atau obsesi jadi bintang film, makanya mereka bangga saja kirim surat dan biodatanya dimuat. Tapi saya percaya sih, mereka yang pernah ikutan rubrik itu juga pasti malu sendiri kalau lihat majalah lama dan ada foto mereka di rubrik itu. Merasa jadi alay pada masanya.

Ngomong-ngomong soal alay, kayaknya sebutan ini agak enggak adil dialamatkan ke anak-anak muda alias ABG. Satu waktu, kita juga pernah ABG dan pernah ngelakuin hal alay. Ayo ngaku!!

Balik ke soal rubrik “Calon Bintang & Bintang Film”. Setiap pengirim yang foto dan biodatanya dimuat, ada nomornya lho. Enggak tahu buat apa. Saya kan enggak pernah ikutan…hehe. Tetapi mungkin begini; kalau suatu saat ada pembaca lain yang jatuh hati dan mau cari identitas profil yang dia sukai melalui media yang memuat, nanti dialognya begini.

Kriing..
“Halo, tabloid Tempe ya”
“Ya betul”
“Mbak, Saya mau tanya tentang peserta Sahabat Pena namanya Asih”
“Sebentar saya cari. Ini Asih yang mana ya. Ada 15 nama Asih nih Mas yang ikut Sahabat Pena. Yang dimuat di edisi terakhir itu Asih dari Irian Jaya. Yang itu?”
“Bukan. Itu lho Mbak, yang nomor 212.’
“Sebentar saya cari. Oh ada nih. Asih dari Pangkal Pinang ya?.”

“Dari Mana Mbak… Pondok Pinang?
“Bukan. Pangkal Pinang!!!!
“Oh… Tanjung Pinang”
“Argggggggg…”

Yang jadi pertanyaan apa ya motivasi teman-teman, eh om-om, tante-tante, kakek-nenek kita ini ikutan rubrik gaul itu. Biar dilihat produser film kali, atau minimal memang sekadar cari teman baru. Zaman itu seru kali ya dapat teman dari rubrik-rubrik begitu, terus jadi balas-balasan surat.

Tapi syarat ikut rubrik itu menurut saya lumayan usaha lho. Masak, foto yang diminta ada tiga. Pas foto, foto penuh badan, satu lagi foto tampak samping. Yang dipajang? Cuma satu… ekkk, terlalu banget majalahnya. Buat apa kirim tiga biji foto, kalau yang dipajang cuma satu? Sampai sekarang pasti belum ada yang tahu apa gunanya tiga foto yang dikirim tapi cuma yang close up saja yang dipajang. Masih misteri tuh…hahaaha

Hus jangan ketawa-ketawa. Bisa jadi tahun 2040, kayaknya giliran kita diketawain bocah generasi 2040. Waktu mereka lihat arsip foto-foto zaman baheula (2010–2020). Apalagi lihat pose emak-emaknya sama bapak-bapaknya masih muda monyong-monyong di kamera, kayak moncong bajaj.

Makanya, sebelum terlambat, saran saya hapuslah jejak digital yang menunjukkan betapa alay-nya kita eh kalian deh. Saya enggak pernah selfie sambil monyong… hehe 🙂

Be Sociable, Share!
122 views

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

cool good eh love2 cute confused notgood numb disgusting fail